Apa Itu DevOps ? Mengapa Harus Jadi DevOps Engineer ?

Pengertian DevOps dan peluang kerjanya
845 Shares

Di era dimana hampir seluruh perusahaan memiliki produk berupa aplikasi seperti saat ini, semua perusahaan dan startup besar berlomba-lomba menerapkan kultur DevOps untuk memenangkan persaingan mereka dengan kompetitor.

Kenapa bisa seperti itu ? Apa sebenarnya DevOps itu ? Lalu kenapa peranan DevOps begitu penting saat ini ?

Perubahan Tren Development Aplikasi

Tren proses development sebuah aplikasi saat ini sudah sangat berbeda dengan dulu.  Sistem terdahulu adalah sistem Waterfall. Dimana pembuatan aplikasi hanya dikerjakan 1x lalu selesai dan ditinggal.

Hanya satu arah, dari atas ke bawah seperti layaknya air terjun.

Ilustrasi Development model Waterfall

Ternyata saat ini kunci untuk memenangkan persaingan di industri adalah dengan cara mendapatkan feedback secepat dan sebanyak mungkin dari customer terkait aplikasi yang sudah dibuat.

Hasil feedback tersebut kemudian langsung dijadikan masukan untuk memperbaiki kekurangan dan merilis fitur baru secepat mungkin.

Setelah di rilis, harus segera mendapat feedback lagi, dan harus segera di perbaiki dan dirili lagi. Terus seperti itu. Prosesnya harus benar-benar ber-iterasi, berulang-ulang.

Coba lihat bagaimana Instagram begitu cepatnya merilis fitur IG Story yang dalam sekejap menghancurkan kekuasaan Snapchat di Indonesia.

Bagaimana XXI yang dengan cepat memperbaiki fitur dan sistem pembelian tiket online mereka akibat persaingan ketat dari CGV.

Hingga bagaimana Go-Pay dengan jenius merilis fitur pembayaran melalui QR Code yang dengan cepat langsung mewabah dikalangan UKM.

Fitur IG Story

Perusahaan-perusahaan ini dengan sangat cepat mampu meluncurkan fitur-fitur baru dan memperbaiki kekurangan sistem mereka tanpa mengganggu stabilitas aplikasi yang sedang berjalan.

Dan tahukah Anda bahwa untuk melakukan semua hal tersebut, kuncinya hanya ada SATU ?  Yaitu peranan DevOps.

Seorang DevOps mampu mempercepat proses development sebuah aplikasi secara signifikan. DevOps inilah yang berperan penting untuk membantu Developer / Programmer agar bisa secara leluasa melakukan peluncuran kode-kode yang mereka tulis dengan cepat tanpa mengganggu stabilitas aplikasi yang ada.

Ibaratnya DevOps ini mampu membuat sebuah lingkungan yang aman dan nyaman agar Developer bebas bermain-main dan berkreasi dengan script mereka.

Sekilias terlihat sepele, namun nyatanya profesi DevOps / DevOps Engineer saat ini merupakan salah satu profesi yang sangat dicari oleh perusahaan dan startup besar, sama seperti profesi yang sedang hype lainnya seperti Data Scientist dan Programmer.

Dan memang sepenting itu posisi DevOps saat ini.

Dalam artikel ini saya akan coba bahas secara sederhana apa itu DevOps dan kenapa Anda harus mulai mempertimbangkan kesempatan emas dari munculnya kebutuhan DevOps ini.

Apa Masalahnya ?

Sebelum menggali apa itu DevOps lebih dalam, disini Anda harus mengetahui terlebih dahulu dari sisi “Problem apa yang sebenarnya terjadi sehingga kita memerlukan seorang DevOps ?“.

Pertama-tama perlu Anda ketahui bahwa proses mendevelop sebuah fitur atau memperbaiki bug dari suatu aplikasi, pada dasarnya melibatkan 2 tim. Yaitu tim Developer (Programmer), dan tim Operation (Sysadmin).

Sederhananya tim Developer adalah tim yang melakukan koding, dan tim Operation adalah tim yang mengurusi bagaimana hasil kodingan dari tim Developer dapat terpasang di server dengan dapat tampil di sisi pengguna dengan baik.

Ilustrasi Developer dan Operation

Terkadang ada tambahan 1 tim lagi yaitu tim Quality Assurance yang melakukan pengecekan apakah fitur / bug yang sudah di upload di server tersebut sudah sesuai dengan kriteria atau belum.

Dalam prakteknya, kedua tim ini akan melalui proses berikut saat develop sebuah fitur aplikasi :

  1. Developer menulis kode secara lokal di laptop masing-masing
  2. Operation mempersiapkan server Test
  3. Developer meminta tim Operation untuk mengupload kode ke server Test
  4. Operation mengupload kode ke Server Test
  5. QA/Tester melakukan pengetesan, dan berhasil
  6. Developer meminta tim Operation untuk mengupload kode ke server Production
  7. Operation mempersiapkan server Production
  8. Operation mengupload kode ke Server Production

Step diatas merupakan contoh ideal, dimana sebuah bug / fitur berhasil dirilis dengan sempurna. Sekarang coba lihat bagaimana sebuah bug / fitur ketika mengalami kendala saat prosesnya :

  1. Developer menulis kode secara lokal di laptop masing-masing
  2. Operation mempersiapkan server Test
  3. Developer meminta tim Operation untuk mengupload kode ke server Test
  4. Operation mengupload kode ke Server Test
  5. QA/Tester melakukan pengetesan
  6. Fitur/bug tidak berjalan dengan baik. QA/Tester melakukan pelaporan kepada pihak Developer
  7. Developer merasa bug ini bukan dari sisi program, melainkan dari sisi server
  8. Developer melakukan pelaporan kepada pihak Operation
  9. Pihak Operation melakukan pengecekan. Tidak menemukan masalah dari sisi server. Operation melakukan pelaporan kepada Developer
  10. Developer meminta Operation melakukan Rollback
  11. Operation melakukan Rollback
  12. Developer mengerjakan kode secara lokal
  13. Developer meminta tim Operation untuk mengupload kode ke server Test
  14. Operation mengupload kode ke Server Test
  15. QA/Tester melakukan pengecekan. Berhasil
Ilustrasi ketika terjadi problem Upload Code

Coba lihat. Secara sekilas saja kita bisa menilai bahwa seluruh step diatas itu begitu lambat, tidak efektif, dan terlalu banyak birokrasi.

Ketika ada 1 problem di sisi server Test, ternyata menyebabkan pembengkakan proses dari 5 langkah menjadi 14 langkah, serta terjadi delay / bottleneck pekerjaan dimana-mana.

Belum lagi jika ada problem dari sisi Server Production yang mana masalah tersebut akan langsung dirasakan oleh pengguna.

Bisa Anda bayangkan proses untuk melakukan rollback (pengembalian kode ke kondisi sebelumnya) juga akan membutuhkan proses yang sama panjangnya.

Seberapa kecewa misalnya pelanggan Bukalapak apabila website mereka down selama 1 – 2 jam hanya karena tim Developer dan tim Operation Bukalapak kesulitan dalam melakukan rollback ?

Jika Anda teliti, proses yang panjang dan rumit ini sebenarnya diakibatkan oleh terpisahnya sistem kerja dan tanggung jawab dari tim Developer dan tim Operations.

Tim Developer seakan-akan hanya bertanggung jawab di kode, dan tim Operation hanya berwenang disisi server.

Ini membuat seluruh proses development akan sangat ketergantungan satu sama lain dan membutuhkan birokrasi yang begitu panjang. Sehingga menimbulkan bottleneck yang begitu besar dalam proses Development.

Seringkali tim Developer akan berdiam diri tidak bisa bekerja hanya karena harus menunggu pekerjaan mereka di upload oleh tim Operation.

Ilustrasi Bottleneck pada tim Developer

Dari sisi Operation pun problem yang dirasakan sama peliknya. Begitu tergantungnya Developer terhadap Operation membuat tim Operation mengalami kesulitan dalam mengelola stabilitas dan uptime server.

Server akan berulang kali mengalami problem akibat banyaknya bug dan fitur baru yang perlu di upload dan disesuaikan.

Operation juga seringkali tidak bisa mengetahui apakah problem yang muncul dari kode yang tidak bekerja adalah kesalahan dari tim Developer atau dari tim Operation itu sendiri.

Semakin banyak server, semakin banyak programmer yang mendevelop fitur dan bug, semakin bertambah pula kompleksitas dari pekerjaan tim Operation.

Bisa Anda bayangkan tim Operation harus terus menjaga seluruh server tetap berjalan dengan baik sembari terus menerus mengkoordinir pekerjaan Developer yang butuh untuk segera di upload atau di rollback.

Lalu apa kabar terkait keamanan server ? Terkait monitoring ? Bisa-bisa sudah tidak tertangani lagi oleh tim Operation.

Ilustrasi kompleksitas pekerjaan tim Operation

Begitu lambatnya proses ini pula, maka organisasi yang tidak menggunakan DevOps juga akan selalu mengalami kesulitan dalam memilih & memperbaiki bug pada sistem yang berjalan atau mengerjakan fitur yang baru.

Mana yang lebih penting ? Jika mengerjakan fitur baru, bisa jadi bug-bug yang ada terbengkalai. Begitupun sebaliknya, jika mengerjakan bug, maka fitur-fitur terbaru akan sangat lama selesainya.

Akibatnya apa ? Perusahaan akan sangat lambat dalam merespon permintaan customer dan pasti akan terlibas oleh kompetitor.

DevOps Sebagai Solusi

Semua bisnis, perusahaan, maupun organisasi harus beradaptasi ke sistem development aplikasi yang lebih baik.

Sistem yang harus bisa begitu cepat beradaptasi terhadap pengembangan fitur dan perbaikan bug tanpa dipusingkan oleh birokrasi dan kegiatan serba manual.

Inilah yang dijanjikan oleh DevOps.

DevOps sebenarnya adalah istilah untuk sebuah kultur dimana tim Developer dan tim Operation bekerja sama dalam proses development sebuah aplikasi agar lebih cepat dan efisien.

Bagaimana agar cepat dan efisien ? Dengan menciptakan kultur sistem yang Iteratif, Kolaboratif, Kontinyu, Sistematis, dan Ter-otomatisasi.

Tim Dev dan Tim Ops tidak lagi bekerja sendiri-sendiri melainkan benar-benar melebur menjadi satu persis seperti yang tergambarkan pada gambar dibawah :

Dari yang tadinya sistem Development berbentuk Waterfall pun bisa menjadi sistem iterasi berasaskan Agile Development seperti berikut :

Sehingga secara garis besar, tugas tim Developer dan tim Operation menjadi perlu penyesuaian.

Tim Developer tidak lagi hanya sebagai tukang koding lalu melempar kodenya kepada tim Operation untuk di upload ke server.

Dalam kultur DevOps, setiap Developer menjadi memiliki hak akses, keleluasaan, dan tanggung jawab yang cukup untuk bisa langsung melakukan testing dan deploy kode mereka ke server kapanpun, tanpa perlu menunggu tim Operation maupun takut mengganggu stabilitas sistem yang sedang berjalan.

Jika terjadi error atau revisi kode pun, Developer juga bisa langsung melakukan rollback dan perbaikan sendiri. Sekali lagi, tanpa campur tangan tim Operation.

Tugas Operation pun dari yang hanya tukang mempersiapkan server dan tukang upload code, berubah menjadi tukang otomasi dan pencipta sistem baru yang kontinyu serta terintegrasi.

Tim Operation akan membuat sistem agar Developer mampu dengan leluasa mengupload kode mereka ke server dengan cepat dan mudah. Dari yang segalanya serba manual, dibuat serba otomatis.

Ini pula yang membuat sebutan jabatan tim Operation sebagai seorang Sysadmin / IT Operation sudah tidak relevan lagi. Akhirnya muncullah jabatan baru bernama DevOps Engineer.

Apa itu DevOps Engineer ?

Secara garis besar goal utama dari seorang DevOps Engineer adalah :

Bagaimana caranya membangun sistem infrastruktur yang terotomasi, terintegrasi, dan fleksibel agar Developer dapat meluncurkan kode-kode mereka secepat dan seefisien mungkin.

Sehingga dalam sehari-harinya tugas DevOps Engineer ini adalah sebagai berikut :

  1. Membangun sistem Containerisasi atau Virtualisasi
  2. Membangun sistem infrastruktur yang terotomatisasi dan terintegrasi
  3. Membangun sistem monitoring yang efektif

Jika Anda adalah seorang System Administrator atau System Engineer yang sudah terbiasa menangani server-server di perusahaan, sebenarnya DevOps Engineer ini pekerjaannya sama persis dengan Anda.

Yang beda hanyalah mindset.

Yang dulunya System Administrator pokoknya yang penting server jalan dan jadi, saling menyalahkan dan tuduh menuduh dengan Developer, hingga Developer kalau ingin mengerjakan apa-apa di Server harus izin dulu, itu semua sudah tidak berlaku lagi.

Sekarang mindsetnya adalah bagaimana caranya seluruh kegiatan System Administrator ini menjadi terotomatisasi dan terintegrasi untuk menunjang tim Developer.

Bagaimana caranya ? Kuncinya adalah penggabungan ilmu Sysadmin dengan tools-tools otomasi, integrasi, serta ilmu koding dan scripting.

Tools ini banyak sekali mulai dari Git, Jenkins, Ansible, Puppet, Kubernetes, Docker, AWS, dan sebut saja yang lainnya.

Disinilah letak seni-nya. Bagaimana seorang DevOps Engineer dapat memanfaatkan tools-tools tersebut untuk mencapai goal besar tadi.

Ilustrasi penerapan tools DevOps

Dari yang tadinya hanya belajar Server, webserver, mail server, sekarang saatnya belajar tools tambahan seperti Ansible dan sedikit coding dengan Python untuk mengatur bagaimana caranya agar webserver, mail server, dan Nagios Anda menjadi terotomasi dan terintegrasi satu sama lain.

Dari yang tadinya hanya belajar membuat server di 1 server fisik dengan cara manual, sekarang bagaimana caranya membuat sistem server di Cloud AWS yang bisa menduplikasi dan scaling dari 1 server menjadi 100 server secara otomatis.

Boleh dibilang DevOps Engineer adalah Sysadmin yang lebih canggih. Analogi perbedaan antara Sysadmin dan DevOps Engineer adalah seperti ini :

Anda bisa bayangkan jika ada sebuah pabrik roti, maka Sysadmin ini adalah seorang kuli yang benar-benar mengaduk adonan rotinya sendiri, meng-oven sendiri, dan mem-packing sendiri roti-rotinya untuk naik produksi.

Sedangkan DevOps Engineer adalah orang yang memanfaatkan mesin-mesin, robot-robot, dan alat-alat lainnya, kemudian mengatur seluruh mesin, alat dan robot tersebut sedemikian rupa agar bisa melakukan tugas-tugas mengaduk adonan, mengoven, dll secara otomatis tanpa campur tangan manusia.

Ilustrasi Pabrik roti dengan menggunakan mesin

Kalau Anda adalah seorang Sysadmin, Anda sudah di jalur yang tepat.

Tinggal belajar bagaimana mindset dan kultur DevOps, lalu pelajari tools-tools, scripting, koding dan gabungkan dengan ilmu Sysadmin Anda, maka Anda sudah siap menjadi seorang DevOps Engineer.

Apa Manfaat Hadirnya DevOps Engineer di Perusahaan?

Berikut adalah beberapa manfaat jika sebuah perusahaan / startup menerapkan kultur DevOps di perusahaannya.

1. Mempercepat proses Develop Aplikasi, mengurangi resiko kegagalan dan kemudahan Rollback.

Untuk membahas manfaat ini saya akan langsung memberikannya dalam bentuk contoh. Dari seluruh step dengan birokrasi super panjang yang sudah kita bahas sebelumnya, semua akan hilang dengan menerapkan sistem DevOps.

Kita lihat ilustrasi dibawah, dimana betapa hebatnya efek yang terjadi ketika tim Developer sudah diberikan keleluasaan dalam melakukan deploy kode dan rollback kodenya sendiri :

  1. Developer menulis kode secara lokal di laptop
  2. Developer mengupload kode ke server Test
  3. QA/Tester melakukan pengecekan. Berhasil
  4. Developer mengupload kode ke Server Production

Lihat, dari 8 step (cek pembahasan sebelumnya) menjadi hanya 4 step !

Sekarang kita lihat lagi prosesnya apabila terjadi error.

  1. Developer menulis kode secara lokal di laptop
  2. Developer mengupload kode ke server Test
  3. QA/Tester melakukan pengecekan. Gagal. Tester melapor ke Developer
  4. Developer melakukan Rollback
  5. Developer menulis kode secara lokal di laptop
  6. Developer mengupload kode ke server Test
  7. QA/Tester melakukan pengecekan. Berhasil

Hanya 7 step, dari yang awalnya 14 step. Sangat cepat dan efisien.

2. Tim yang lebih produktif dan bahagia

Dengan digabungkannya tim Developer dengan tim Operation, tentunya membuat mereka akan jauh lebih memungkinkan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi yang lebih efektif.

Ini membuat kedua tim akan memiliki sebuah tujuan bersama, yaitu mampu meluncurkan fitur / bug secepat mungkin ke pengguna.

Tujuan bersama ini juga akan memunculkan rasa saling memiliki dan meningkatkan kebahagiaan tim. Tidak lagi beranggapan tim Developer ngoding, lalu lempar ke Operation untuk urusan upload ke server.

Melainkan bagaimana caranya agar Operation dapat membuat Developer mampu mengupload, rollback, dan modifikasi kode mereka ke server secepat mungkin dan sebebas mungkin.

Tidak ada lagi batasan antar departemen Developer dan Operation. Tidak ada lagi saling menyalahkan.

3. Human Error yang lebih rendah

Dengan bantuan tools-tools DevOps seperti server yang berada di Cloud (AWS, GCP, Azure, dll), Jenkins, Ansible, hingga Python, DevOps Engineer dapat membuat sebuah sistem dimana Developer bisa tinggal mengetikkan 1 perintah untuk secara otomatis mengupload kode mereka ke server.

Jika terjadi error, tinggal ketik 1 perintah pula untuk rollback ke kode sebelumnya. Semua dapat dilakukan tanpa mengganggu Developer lain, server lain, maupun tanpa campur tangan manual tim Operation.

Karena semua sudah serba otomatis tentu resiko terjadi Human Error menjadi lebih sedikit. Yang salah ketik lah, yang lupa perintah lah. Semua tidak akan terjadi lagi. Karena semua sudah tersistemisasi secara otomatis.

Lalu Apa Keuntungan Menjadi DevOps Engineer Bagi Anda ?

Sejauh ini kita sudah melihat kenapa DevOps Engineer sangat dibutuhkan di sebuah perusahaan dan benefit apa saja yang dapat mereka berikan.

Sekarang saatnya kita coba bahas dari sisi peluang kerja dari seorang DevOps Engineer itu sendiri. Ini untuk memberikan gambaran bagi Anda yang ingin mencoba berkarir sebagai DevOps Engineer.

1. Bergaji besar

Rata-rata gaji seorang DevOps Engineer di Indonesia ada di kisaran Rp. 7.000.000 – Rp. 15.000.000 / bulan. Ini tentu peluang yang sangat baik untuk Anda yang ingin upgrade karir dari IT Support biasa atau Sysadmin biasa.

2. Bisa bekerja di perusahaan besar dan ternama

Saat ini di Indonesia perusahaan-perusahaan yang menerapkan sistem DevOps adalah perusahaan dan startup besar.

BBM, Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, Go-Jek, Telkom, hingga Bank BTPN, semuanya memiliki produk berbasis aplikasi dan sangat membutuhkan talenta DevOps berbakat.

Jika Anda mempunyai skill yang cukup sebagai seorang DevOps Engineer, maka sangat mungkin Anda untuk bisa bergabung dengan perusahaan dan startup terkenal ini.

Anda akan merasakan bagaimana rasanya bekerja di lingkungan perusahaan dengan kultur yang sangat menunjang skill dan kehidupan Anda.

Ilustrasi bekerja di Startup Terkenal

3. Peluang kerja sangat besar, SDM yang ada sangat sedikit

Hype profesi DevOps sebenarnya baru terjadi 1-2 tahun ke belakang. Sehingga masih jarang sekali talenta-talenta DevOps yang berkualitas di Indonesia.

Inilah kesempatan untuk Anda bisa menjadi talenta-talenta DevOps pertama yang paling di cari, sebelum saingan menjadi terlalu banyak.

Bahkan beberapa rekan saya yang saat ini bekerja sebagai DevOps Engineer, hampir setiap minggu mereka selalu ditawari oleh perusahaan-perusahaan lain untuk pindah kerja ke tempat mereka.

Coba pikirkan, berarti masih sesedikit itu talenta DevOps dibandingkan lapangan pekerjaan yang ada.

Saya Berminat Untuk Memulai Karir Sebagai DevOps Engineer Profesional. Dari Mana Saya Harus Memulai ?

Jujur saja, saat ini di Indonesia bahkan di dunia, petunjuk step-by-step dari nol sampai bagaimana caranya menjadi seorang DevOps profesional itu sangat jarang.

Jika kita mencari-cari buku, course online, training biasa, kebanyakan materinya terpisah-pisah. Belajar AWS sendiri, belajar Jenkins sendiri, belajar Docker sendiri. Tidak ada yang sudah membundling seluruh ilmu tersebut menjadi satu.

Kita menjadi tidak tahu harus mulai belajar dari mana.

Belum lagi kita sebagai orang awam juga pasti tidak tahu bagaimana best practice dari ilmu-ilmu yang dipelajari tersebut. Misalnya bagaimana implementasi gabungan Jenkins dengan Docker dengan AWS yang asli di industri itu seperti apa, dsb.

Jadi percuma jika kita sudah ambil course online tentang AWS, tentang Docker, tapi tidak tahu bagaimana penerapan nyatanya.

Materi kuliah ? Jangan ditanya.

Dari dulu sampai sekarang materi kuliah itu terkenal akan ketidakfokusannya. Kuliah hanya membentuk mindset dan relasi saja, tapi tidak memberikan hard skill yang fokus pada suatu bidang.

Apalagi materi DevOps yang terbilang materi baru. Saya jamin belum ada satupun kampus yang menyajikan materi ini secara mendalam.

Ini yang menyebabkan sulit sekali para pemula untuk belajar menjadi seorang DevOps Profesional.

Jadi Saya Harus Bagaimana ?

Anda tetap harus memfokuskan diri Anda untuk menjadi seorang DevOps Profesional. Jika anda saat ini hanya seorang IT Support, guru komputer, maupun Sysadmin, Anda sudah saatnya harus upgrade jenjang karir Anda ke jalur DevOps.

Jika Anda saat ini masih mahasiswa TI, SI, TKJ, yang senang dengan dunia jaringan/ server, Anda sudah saatnya banting setir untuk fokus ke materi-materi DevOps di banding materi jaringan dan server tradisional.

Ibarat bom waktu, tinggal tunggu tanggal mainnya saja sampai seluruh dunia sudah beralih ke Cloud dan serba aplikasi.

Apabila pada saat itu Anda masih belum terbiasa mengimplementasikan kultur DevOps dan tools-tools DevOps, maka Anda akan terlibas oleh saingan.

Ingat-ingat kata-kata saya ini. Dalam 2 – 3 tahun kedepan seluruh perusahaan pasti wajib memiliki 2 posisi berikut, yaitu Developer dan DevOps Engineer. Ini kesempatan emas untuk Anda.

Kemana Harus Belajar DevOps ?

Jika ditanya kemana harus belajar DevOps yang paling efektif, menurut saya bukan belajar dari buku, course online, maupun dari training-training biasa.

Kenapa ? Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, semua sumber materi diatas tidak ada yang memberikan SATU bundling materi lengkap dari nol hingga mahir. Jadi percuma.

Walaupun Anda mempelajarinya Anda pasti tetap akan merasa bingung ke depannya. Dan ujung-ujungnya Anda belum paham konsep utama dari seorang DevOps Engineer itu seperti apa.

Bagaimana dengan kuliah ? Saat ini menurut saya kuliah juga semakin tidak relevan. Kini trennya perusahaan tidak membutuhkan lagi ijazah. Mereka lebih mementingkan skill nyata dari para pelamar kerja.

Coba lihat berapa banyak anak lulusan SMA tapi bergaji belasan juta karena skill Programmingnya sangat bagus ? Banyak sekali !

Emi Morikawa – programmer & entrepreneur sukses berumur 17 Tahun di Jepang

Dari sini mulailah bermunculan tren tempat training intensif yang perannya menggantikan kuliah (minimal sebagai alternatif kuliah).

Dimana tempat training ini menjanjikan pelatihan intensif selama 3-4 bulan untuk membentuk seseorang dari yang benar-benar pemula menjadi seorang profesional.

Kerennya lagi tempat-tempat training ini berani menjamin bahwa lulusannya akan dijamin bisa bekerja. Tanpa perlu ijazah !

Training seperti ini benar-benar menjadi solusi untuk Anda yang baru ingin menjadi seorang DevOps. Karena mereka sudah mendesain silabusnya sedemikian rupa agar materinya benar-benar  berurutan dari nol sampai mahir.

Dan Anda punya jaminan bekerja setelah lulus.

Tapi sebagian orang skeptis dengan betapa mahalnya biaya training intensif semacam ini. Biasanya harganya berada di kisaran Rp. 30.000.000 – Rp. 40.000.000.

Pertanyaannya, benarkah harga segitu benar-benar mahal?

Sekarang coba bandingkan saja berapa biaya kuliah yang harus dikeluarkan oleh seseorang dalam melakukan kegiatan perkuliahan selama 4 tahun :

  • Biaya kuliah : Rp. 7.000.000 x 8 Semester = Rp. 56.000.000
  • Biaya hidup : Rp. 2.000.000 x 48 bulan = Rp. 96.000.000
  • Total = Rp. 152.000.000

Dan lihat berapa biaya rata-rata training intensif yang harus dikeluarkan oleh Anda :

  • Biaya training : Rp. 40.000.000
  • Biaya hidup : Rp. 2.000.000 x 4 bulan = Rp. 8.000.000
  • Total = Rp. 48.000.000

Sebenarnya biaya kuliah jauh lebih mahal bahkan hingga 3x lipat dari biaya training. Tetapi hasilnya apa ? Lulusan anak kuliahan tidak mendapat jaminan kerja dan tidak mendapat jaminan punya skill setelah lulus.

Sedangkan Training intensif hanya dalam 4 bulan mampu memberikan jaminan pada lulusannya akan mempunyai skill yang cukup agar bisa mendapat kerja dengan gaji Rp. 6.000.000 – Rp. 15.000.000 / bulan.

Kesimpulannya ? Jalur terbaik untuk memulai karir impian Anda sebagai DevOps Profesional bukanlah melalui jalur kuliah, melainkan melalui jalur Training Intensif berjaminan kerja.

Sekolah DevOps Cilsy

Alhamdulillah, perusahaan saya PT. Cilsy Fiolution Indonesia kini memiliki program Training Intensif untuk membantu Anda menjadi seorang DevOps Profesional dengan jaminan kerja hanya dalam 16 minggu.

Nama programnya adalah :  Sekolah DevOps Cilsy.

Silabus Sekolah DevOps Cilsy dirancang agar Anda yang tidak memiliki background IT tetap bisa mengikuti dan memulai karir sebagai DevOps Engineer.

Jadi jangan kuatir, mau background Anda desainer pun tetap bisa mengikuti training intensif di Sekolah DevOps Cilsy.

Pengajar di Sekolah DevOps Cilsy berbeda dengan pengajar di tempat Training lain. Di Sekolah DevOps Cilsy para pengajarnya merupakan para SUPERSTAR di bidang DevOps Engineer, yaitu :

  1. Mas Irfan Herfiandana – DevOps Engineer di Geekseat
  2. Mas Ginanjar R. – DevOps Engineer di Sale Stock 
  3. Mas Adi Saputra – DevOps Engineer di Bhinneka.com
  4. Mas Tresna Widiyaman – Certified AWS Trainer di Cilsy.

Mereka akan sharing ilmu, knowledge, dan pengalaman mereka selama 16 minggu kepada Anda. Mau tanya-tanya apapun silahkan, Anda bisa bertanya sepuasnya nanti dengan mereka.

Takut bahwa Sekolah DevOps Cilsy ini penipuan atau kurang kredibel ? Tenang saja, Cilsy sendiri sudah berpengalaman dalam menyelenggarakan berbagai training sejak 2011.

Insya Allah training ini akan sangat cocok untuk Anda, bahkan jika Anda adalah seorang pemula dari nol sekalipun.

Anda akan mempelajari dari awal seluruh skill, konsep, dan praktek yang diperlukan untuk menjadi seorang DevOps Profesional. Seluruh pengajaran berbasis teori dan praktek real project yang efektif.

Sekolah DevOps Cilsy sangat cocok untuk Anda yang ingin solusi dan jaminan nyata untuk memulai karir impian Anda sebagai seorang DevOps Engineer.

Silabus secara garis besarnya adalah sebagai berikut :

  1. Belajar Linux dan Jaringan dari nol
  2. Mempelajari Cloud Environtment di Amazon Web Services
  3. Belajar Containerisasi menggunakan Docker
  4. Scripting dan Programming menggunakan Python dan Bash
  5. Monitoring Server
  6. Otomasi menggunakan Ansible
  7. CI/CD dengan Jenkins
  8. dll

“Tempat trainingnya dimana mas ? Saya jauh rumahnya di Pekanbaru.” Nah sangat cocok. Justru Sekolah DevOps Cilsy ini sistem belajarnya hampir 100% online. Anda yang jauh tetap bisa mengikutinya langsung dari rumah Anda.

“Saya kan sedang bekerja atau sedang kuliah, itu bagaimana mas, apakah masih tetap bisa ikut trainingnya?” Tentu saja bisa.

Jam belajar Sekolah DevOps Cilsy di hari biasa dilakukan setelah office hour, yaitu pukul 19.00 – 22.00 serta juga ada yang diadakan di weekend.

Pokoknya tenang aja, Anda pasti tetap bisa ikut.

Dan yang paling pasti, setelah lulus dari Sekolah DevOps Cilsy Anda akan kita salurkan ke lebih dari 150 perusahaan dan startup yang bekerja sama dengan Sekolah DevOps Cilsy.

Termasuk ada jaminan uang Anda 100% kembali jika dalam 24 bulan Anda tak kunjung mendapatkan kerja. Aman kan ? Boleh dibilang Anda sama sekali tak memiliki resiko rugi saat mengambil jalur belajar melalui Sekolah DevOps Cilsy.

Batch #1 segera dimulai 6 Agustus 2018. Lihat info lebih lengkap dari Sekolah DevOps Cilsy dan segera daftar dengan Klik gambar di bawah ini ya :

Penutup

Akhir kata, Anda yang saat ini masih anak kuliahan semester akhir, orang yang sedang bekerja sebagai IT Support, IT Staff, Guru, hingga Network Admin, tentu Anda tidak ingin mengalami masalah seperti :

  1. Gaji kecil, Ilmu stagnan begitu-begitu saja
  2. Tidak diperpanjang kontrak oleh kantor karena terlibas oleh saingan yang lebih muda
  3. Tidak tahu mau menjadi apa setelah lulus kuliah
  4. Buang-buang uang dan waktu di tempat kuliah serta tidak punya skill setelah lulus
  5. Bingung masa depan karir sebagai IT harus bagaimana

Dan ingin merasakan benefit luar biasa berikut :

  1. Bekerja di perusahaan dan startup terkenal
  2. Bekerja nyantai dengan gaji yang besar
  3. Sangat mudah dalam mencari kerja (bahkan Anda yang dicari bukan mencari !)
  4. Lulus kuliah sudah punya skill mumpuni untuk terjun langsung di industri
  5. Anda bisa membuka Startup anda sendiri !

Sudah saatnya Anda memulai karir impian Anda sebagai DevOps Engineer Profesional. Saya jamin, DevOps Engineer adalah jalur karir terbaik saat ini hingga 10 – 20 tahun ke depan untuk Anda.

Jangan lupa segera daftar di Sekolah DevOps Cilsy, dan #JadiBagianMembangunNegeri ya!

Semoga bermanfaat 🙂

845 Shares

Artikel Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *