Opini Saya : Kenapa Linux Tidak Menyediakan Offline Installer ?

Pembahasan Linux kali ini adalah opini saya saja. Terkait benar atau tidaknya silahkan kalian yang memutuskan sendiri.

Artikel ini juga hanya membahas aplikasi secara umum, tidak termasuk aplikasi – aplikasi yang memang sengaja dibuat offline installernya seperti Google Chrome, atau metode buatan orang lain seperti Alldeb.

Kenapa Linux Tidak Membuat Offline Installer ?

Kenapa sih di Linux kalau install aplikasi tidak bisa langsung klik-klik next-next selesai ? Kenapa sih saya tidak bisa simpan installer offlinenya aja ?

Kan supaya suatu saat nanti saya bisa install lagi tanpa perlu download ulang ? Atau supaya bisa saya share lagi ke teman – teman.

Jawabannya satu, karena Linux ingin membuat ukuran aplikasi sekecil mungkin.

Caranya adalah dengan membuat aplikasi – aplikasi yang dapat saling menggunakan komponen – komponen antar aplikasi lain.

Masing – masing aplikasi tidak perlu install komponennya sendiri – sendiri ketika komponen tersebut sama / sudah ada di aplikasi lain.

Anda masih bingung ?

Contohnya begini. Saya mau install 3 aplikasi web browser, yaitu Opera, Firefox Dan Chrome. Nah kalau di windows, ketika kita install 3 aplikasi ini, kira – kira jadinya seperti ini :

Firefox, komponen yang diinstall : a,b,c,d,e,f,g
Chrome, komponen yang diinstall : x,y,c,d,e,f,g
Opera, komponen yang diinstall : a,b,c,d,e,z,y,x

Total komponen yang diinstall : 21

Sedangkan kalau di Linux seperti ini :

Firefox, komponen yang diinstall : a,b,c,d,e,f,g
Chrome, komponen yang diinstall : x,y
Opera, komponen yang diinstall : z

Total komponen yang diinstall : 10

Terlihat bukan bedanya ? Kalau di Windows, semua komponen tetap di install di masing – masing aplikasi.

Sedangkan kalau di Linux, jika ada komponen yang sudah ada di aplikasi lain maka tidak perlu diinstall lagi.

Contohnya pada aplikasi chrome, Linux tidak perlu menginstall komponen a,b,c,d,e,f,g lagi karena semua komponen itu sudah ada di firefox.

Begitu pun komponen y,x sudah tidak perlu diinstall lagi di Opera, karena sudah ada di Chrome.

Ibaratnya kalau ada sekelompok orang yang mau berenang, mereka tinggal berenang bareng – bareng aja di 1 kolam renang.

Tidak perlu masing – masing bikin kolam renangnya sendiri.

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, efek dari hal ini adalah ukuran aplikasi menjadi jauh lebih kecil di banding buatan Windows.

Bandingkan saja Ms. Office di Windows besarnya bisa 7 GB, tapi di Linux cuma sekitar 200 MB. Begitupun Corel draw di Windows bisa 3 GB, tapi Inkscape di Linux hanya sekitar 90 MB.

Soal mana metode yang lebih baik, itu relatif.

Ada yang lebih suka metodenya Linux, ada juga yang lebih suka metodenya Windows. Saya serahkan ke kalian untuk menilainya.

Semoga tercerahkan 🙂

Komentar Pembaca . . .

    • Di bagian awal sudah dijelaskan mas. "Artikel ini juga hanya membahas aplikasi di Linux secara umum, tidak termasuk aplikasi-aplikasi yang memang sengaja dibuat offline installernya seperti Google Chrome, atau metode buatan orang lain seperti Alldeb."

      Balas
  1. Yup, tepat sekali. Sistem APT memiliki berbagai pertimbangan yang sangat baik dari segi teknis.

    Tapi yang kadang kurang disadari, kita sebenarnya bisa lho membuat offline installer dengan tetap kompatibel pada sistem APT, tanpa perlu merubah apapun dari sistem APT. Sehingga kita bisa mendapatkan 'best of both worlds', tinggal kita pilih pakai yang mana sesuai kondisi dan kebutuhan.

    Alldeb adalah salah satu yang melakukannya 😀

    Balas

Yakin Ngga Mau Diskusi ?

Yuk diskusi cerdas. Gunakan nama asli agar komentar Anda disetujui.